Posted on

Mata Sendu Berkalung Ragu

dawn

Mata sendu berkalung ragu,

Menginjak nyaris subuh

Dianya masih bergelut dengan sendirinya

Bersuaranya yang hanya didengar dia

Mata sendu berkalung ragu,

Dalam tanda besar pertanyaan

Seharusnyakah menjadi optimis sepenting menjadi egois?

Dalam diam merenungnya dia tak terjawab

Tetap tanda besar itu menjadi tanya

Semakin larut bergelut dengan sendirinya

Semakin titik yang dilihat oleh dia tanpa ujung

Terkaan tentang nanti, obrolan nanti, dan candaan nanti

Yang dia takut menjadi fakta berkebalikan

Percuma mengharap seluruh mata dunia

Dia tetap menjadi dirinya yang naif

Kaku dan beku

Seperti es yang gagal menemukan cara untuk mencair

Advertisements

4 responses to “Mata Sendu Berkalung Ragu

  1. Kisah Hidup Geologist ⋅

    Seperti es yang gagal menemukan cara untuk mencair – indahnya ilmu geologi. bisa berada dimana saja dan bisa diaplikasikan dengan menu bahasa yang enak dan lugas 🙂

    • bener banget, tanpa kita sadari ilmu yang kita pelajari sebenarnya saling bersinggungan dengan disiplin ilmu yang lain, termasuk geologi sama sastra, meskipun hanya berupa pemilihan diksi, hehe. terima kasih sudah meluangkan waktunya, mas ^^

  2. Kisah Hidup Geologist ⋅

    sama sama . itulah ilmu yang bersifat luas dan tidak ada batas serta saling terkait satu sama lain. bgitupun hati .kok lari kehati yahh. :-). saya menyukai sastra juga semenjak SMA kelas 2. dimanapun saya pergi buku kecil itu selalu saya ikutkan.setiap ada imajinasi dan hal baru pasti saya catat.bgitupun dengan lagu yang saya buat karena dari beberapa catatan itu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s