Posted on

Letters To Bima – 2

Letters To Bima

Sejak bekerja sebagai consultant di sebuah perusahaan NGO, aku mulai menikmati hidupku bahkan bisa kubilang aku larut di dalam rutinitasku sehari-hari. Mungkin sebenarnya tidak benar-benar larut di dalamnya, lebih tepatnya melarutkan diri, sebuah pilihan untuk mengalihkan pikiran dari suatu hal. Dan saat tengah malam atau saat bergelut dengan kelengangan, pikiran itu mengerubung kembali. Seolah ingin menyapa dan meninggalkanku pergi keesokkan harinya.

“Bim ada kiriman pos buat kamu, kayaknya penggemar rahasia kamu tuh. Aku taruh diatas meja.” Sean menyapa pagi ini dengan menyodorkanku sebongkah surat tak berpengirim, “Oh ya, kata pak posnya, suruh bacanya satu-satu, gila! Ada-ada aja penggemar kamu.” Sean berlalu dengan ekspresi wajah terheran.

Tumpukan pertama surat itu bertuliskan “Letters to Bima” dari seorang anonim. Masuk akal apabila Sean berkata surat itu dari seorang penggemar rahasia. Pun aku menyadari wajahku yang mereka bilang rupawan bukan satiran, aku tidak sedang membanggakan diri sendiri tapi menceritakan fakta dari apa yang aku lihat di cermin. Entah kenapa muncul perasaan tergelitik untuk membaca lembar teratas surat itu.

“Letters to Bima Kenandra

Saat aku menuliskan surat ini, aku tengah berada di sebuah coffee shop. Berbicara tentang coffee shop selalu mengingatkanku tentang kisah kita. Dan sejak hari ini, tepatnya saat surat pertama ini aku tulis, aku akan menceritakan tentang hal-hal konyol yang aku alami disini seolah-olah aku tengah berbicara padamu. Meskipun aku tahu kamu akan dengan bosan mendengarkan ocehanku, tapi toh aku tidak peduli, haha.

Ah, aku ingin memulainya dengan bercerita tentang pertemuan terakhir kita. Karena tidak terlalu banyak pengunjung sore hari ini, aku hanya ditemani lagu dari mp3ku. Tie A Yellow Ribbon Round The Old Oak Tree dinyanyikan oleh Tony Orlando. Aku ingat raut wajahmu yang begitu menyebalkan saat menertawakan selera musikku yang aneh, kamu bilang aku orang yang klasik dan kuno, tapi aku tidak peduli, kamu tidak akan pernah mengerti nyawa dari sebuah lagu.

Mungkin masih tersimpan kenapa di benakmu tentang kita. Mungkin masih tersisa sedikit rasa atau mungkin kamu masih bertanya-tanya? Mungkin sejak saat itu juga aku berubah menjadi sosok yang sangat kamu benci. Hari itu, pertama kalinya aku mengingkari isi hatiku sendiri. Menatap raut wajahmu yang terlihat tidak menahu, seandainya pikiranku bisa bersuara saat itu, dia ingin berteriak ‘Hei, bodoh! Harusnya kamu tahu dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya’

Dan memori yang kita ukir masih tertata rapi di satu lini. Hingga detik ini berlalu, semua tentangmu. Tentang kita. Masih menjadi satu bagian utuh. Hanya agar kamu tahu, rasa itu masih menguat tanpa pernah memudar sedikitpun. Bukan karena jengah dengan kita. Tapi untuk suatu asa. Asa yang kamu tidak tahu. Mungkin lain waktu aku akan menceritakan semuanya.”

Entah kenapa dengan raut wajahku yang tercengir saat membaca dua paragraf pertama surat ini. Diang, sudah pasti dia pengirimnya, sosok itu nyatanya tidak benar-benar terhapus dari ingatanku. Aku bahkan membayangkan ekspresi wajahnya yang komikal tapi begitu tenang saat bercerita tentang hal-hal konyol yang dia alami. Kesukaannya pada musik era 80an dan novel yang nama pengarangnya terlalu sulit untuk aku eja, dan segudang hal-hal aneh lain yang ada pada dirinya.

Diang yang selama ini bercokol menjadi buah bibir di kepalaku. Mesti sudah tidak sama seperti bulan pertama sejak kejadian itu, tidak kupungkiri aku merindukan kebersamaan kita. Sosok itu seperti labirin, bahkan hingga saat ini aku masih tidak mengerti alur pikirannya. Tapi itu yang membuatku ingin tahu tentangnya lebih dalam seperti penggalan lirik lagu ini ‘you wake up each day different another reason for me to keep holding on’.

Dan sekalipun aku pernah menjadi orang terdekatnya tapi tidak begitu banyak hal yang aku tahu tentang dia kecuali kesukaannya pada musik kuno dan novel. Kebersamaan kami selama ini berkisar tentang kehidupan sehari-hari atau menertawakan hal konyol yang terjadi setiap hari. Dan berbicara tentang asa yang dia tulis dalam surat itu yang masih membuatku tidak habis pikir, berapa banyak hal lagi yang aku tidak tahu tentang dia sekalipun aku telah mengenalnya selama 7 tahun?

Dan satu hal yang kini menjadi pertanyaan di kepalaku, kenapa Diang tiba-tiba melakukan hal seperti ini, “It has been 7 months already, why you have to show up all in a sudden when i’m about to move on?” Tiba-tiba aku menyayangkan usahaku yang seketika terasa sia-sia.

Entah kenapa saat kedua mata ini mengeja tiap patah kata yang tertulis, disaat yang bersamaan aku merasakan perasaan yang tidak asing lagi bagiku. “Apa mungkin aku merindukannya? Ini tidak seharusnya terjadi,”  Sekelibat terlintas dipikiranku, dimana seorang Diang saat ini berada?, “Mungkin aku memang merindukannya.” Aku menyelakan bundelan surat yang masih tersisa diantara tumpukan kertas laporan di atas meja kerjaku yang sudah penuh sesak dan mencoba melarutkan diri dengan rutinitas seperti biasa.

***

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s