Posted on

Free Sex Is An Okay Act And Virginity Is Passe?

BipjsYMCEAEyHJq

From time immemorial a woman’s virginity has been her prized possession. Throughout history one will read about cultures across the world placing a high value on a a woman’s virginity. But times are changing and for an increasing number of young men and women, sex is no longer the kind of taboo that it earlier used to be. And much to our older generation’s charging, pre-marital sex is a definite reality of our times.”Timeofindia.com
Berbicara tentang zaman dahulu, meskipun tidak ada parameter pasti yang bisa digunakan untuk mengetahui kapan tepatnya, tapi zaman dahulu virginity adalah sesuatu yang sakral bagi pemiliknya –perempuan, setidaknya sebelum budaya barat mempenetrasikan budayanya di Indonesia –lagi tidak ada yang tahu persis timetable pasti budaya barat itu mulai menjelma menjadi bagian dari lifestyle di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pengaruh film-film luar yang kental menyuguhkan budaya meraka yang liberal seolah secara implisit mencoba menyebarkan pesan “Free Sex Is An Okay Act. Virginity is Passe.” , ambil saja satu contoh film yang pernah saya tonton ‘Friends with benefit’, bagaimana dalam film itu secara gamblang disuguhkan tayangan motion picture yang ‘panas’, bahkan free sex dengan temanpun adalah hal yang lumrah senyampang tidak menggunakan perasaan.
Seperti penggalan kalimat dalam kutipan diatas ‘But times are changing and for an increasing number of young men and women, sex is no longer the kind of taboo that it earlier used to be.’ Sekarang jamannya sudah berbeda, hal yang dulunya dianggap tabu untuk dilakukan sekarang justru dianggap ‘kuno’ jika belum melakukan. Terlepas dari itu, pasti ada motif dibalik tindakan seseorang melakukan sesuatu, seperti seorang anak rajin belajar agar dibelikan mainan oleh orang tuanya, mereka yang memilih untuk melakukan premarital sex juga pasti memiliki kacamata mereka sendiri, sudut pandang mereka dalam memaknai ‘seks’ itu sendiri.

“Surveys amid 25 men. Results concluded that 14 men, if given a choice, would prefer virgins, while the remaining 11 preferred either non-virgins or were indifferent altogether. Incidentally, all the men who participated are single and have had sex with at least two different women.” –Askmen.com

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Askmen.com terhadap 25 pria, lebih dari setengahnya memilih untuk menikah dengan perempuan yang memiliki riwayat ‘bersih’. Dan sisanya menyatakan tidak terlalu mempermasalahkannya. Dari semua responden yang semuanya masih belum berkomitmen mengaku telah melakukan pre marital sex setidaknya dengan dua perempuan yang berbeda. Yang ingin saya utarakan disini, Dear, Men, how dare you demand to marry the purest of the pure, yet you yourself already tasted the pleasures of female flesh? Seperti yang telah saya utarakan di paragraf sebelumnya, setiap orang memiliki kacamata dan motifnya sendiri dalam memaknai sesuatu, tidak terkecuali pre marital sex. Dan hal itu menjadi bahasan yang lebih kompleks untuk dijabarkan. Tapi yang perlu diingat, virginity dan chastity (keperawanan dan kesucian) bukan menjadi satu-satunya patokan untuk sebuah pernikahan yang bahagia. Kejujuran dan kepercayaan jauh lebih penting untuk dimiliki oleh seorang pasangan.

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s