Posted on

Persimpangan

Kamu sudah berjalan terlalu jauh, pulanglah!” Langkahmu menelusuri setiap tikungan dengan kepongahan yang terlihat memberatkan pundakmu. Dan dua mata ini masih melihatmu seksama disini dengan kehati-hatian yang hanya bertambah jeli mengawasimu yang mulai letih terjaga. Guratan tegas air mukamu mencecar dan bersanding begitu bersahaja dengan argumentasi deduktif yang melenakan. Lihatlah, lihat! Dan jika terjagamu cukup daya untuk jua mendengar! Kerumunan yang menjelalat termatikan alur pikir logis sistematisnya saat kamu yang pongah dengan kalimat bersahajamu mendisfungsi neokortex mereka. Aku hanya tertegun. Tapi lirih berbisik yang hanya di dengar kelengangan. ‘Kamu sudah berjalan terlalu jauh, pulanglah’.
Asa itu nampaknya membuatmu dehidrasi rasa. Karena indramu yang kau pakai hanya menafikkan pertimbangan intuisi. Aku takut kamu kehilangan navigasi dan pulang tidak lagi menjadi sebuah opsi. Lalu bagaimana dengan aku yang mulai bosan mengawasimu? Bahkan saat kau tak acuhkan pun aku senantiasa memberimu atensi yang melibatkan kelima indraku.
Di tempat yang sama berharap kamu memicingkan pandangan kearahku. Tahukan kamu keberadaanku sebagai jangkar yang memberimu arah? Dan aku ingin kau segera pulang! Sebelum kata itu menjadi irrelevan.
“Pergilah, aku tahu kamu lelah. Lepaskan saja jangkarmu jika perlu.”
Faktanya kamu tidak pernah luput dari pandanganku.

made this flash fiction while listening to abba chiquititta :’)

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s