Posted on

#PrayForHumanity: Harga “Mati” Kebebasan Berekspresi

image

If we believe in equality, it seems there are two available responses to threats against freedom of speech. One option is, basically, “If you accept my taboos, I’ll accept yours.” – Fleeming Rose

Kejadian penembakan membabibuta yang menewaskan lebih dari 150 orang di Paris, Perancis pada tanggal 13 November 2015 adalah harga “mati” yang harus dibayar atas nama kebebasan berekspresi dan bentuk ironi dari kesalahan berlogika pelakunya. Dengan salah satu alasan rasa dendam yang masih tersemat atas insiden kartun nabi Muhammad, terlepas dari
kasus penembakan di kantor Charlie Hebdo, rupanya hal itu dinilai tidak setimpal oleh sebuah kelompok militan yag menamakan diri mereka ISIS. Atas dasar kemanusiaan, pembunuhan dalam bentuk apapun adalah sebuah dosa besar yang tidak dibenarkan pun diajarkan dalam ajaran agama manapun, logika dasar yang tidak memerlukan pemahaman tentang filosofi etika untuk memahaminya.

Konsekuensi Hidup di Open Society dan Budaya “Satire” di Eropa

Dalam bukunya, Tyranny of Silence, Fleeming Rose memaparkan alasan dibalik tindakannya dan para kartunis lainnya — utamanya di benua Eropa, merupakan salah satu konsekuensi dari hidup di open society atau era liberal demokrasi. Freedom of speech atau kebebasan berbicara maupun berekspresi adalah konsekuensi mutlak dari hal tersebut. Rushdie menanggapi perihal freedom of speech yang baginya merupakan kebebasan untuk berbicara atau menceritakan sebuah hal dari berbagai sudut pandang, berikut kutipannya:

The only answer you can give from my side of the table is that everyone has a right to tell their story in any way they wish. This goes back to the question of what sort of society we want. If you wish to live in an open society, it follows that people will talk about things in different ways, and some of them will cause offense and anger. The answer to that is matter-of-fact: OK, you don’t like it, but there are lots of things I don’t like either. That’s the price for living in an open society. From the moment you begin to talk about limiting and controlling certain expressions, you step into a world where freedom no longer reigns, and from that moment on, you are only discussing what level of un-freedom you want to accept. You have already accepted the principle of not being free.

Intoleransi yang ditunjukannya oleh ISIS dengan peristiwa penembakan Paris seolah menjadi counter-argument pendapat Rushdie, sikap critics-irresistency secara implisit menyebarkan pesan “pembatasan” pada kebebasan berekspresi salah satunya berbicara atau berpendapat dan anti-heterokultur.

Dalam artikelnya berjudul “Why I Published Those Cartoons”, Rose memaparkan pendapatnya:

We have a tradition of satire when dealing with the royal family and other public figures, and that was reflected in the cartoons. The cartoonists treated Islam the same they treat Christianity, Buddhism, Hinduism and other religions. And by treating Muslims in Denmark as equals they made a point: we are integrating you into the Danish tradition of satire because you are part of our society, not strangers. The cartoons are including, rather than excluding Muslims.

Budaya satire sendiri bukan hal kemarin sore di Eropa, satire sudah menjadi budaya sejak jaman restorasi atau age of reason pada tahun 1700an dimana kritik dalam bentuk satire merupakan hal yang lumrah dilakukan. Sebagaimana pertama kali muncul dalam majalah mingguan The Spectator oleh Sir Richard Steele yang mengulas kritiknya tentang kehidupan di Inggris. Budaya satire ini masih berlangsung hingga saat ini, tidak hanya di Inggris secara khusus, tapi di Eropa secara umum. Seperti yang dilakukan oleh Kurt Westergaard, kartunis asal Denmark, yang diancam akan dibunuh, karena menyindir Islam dengan image teroris digambarkan dengan nabi Muhammad yang mengenakan surban berbentuk bom di kepala. Menurut Kurt, tindakannya merupakan bentuk ekspresi skeptisnya, dan sindiran tersebut tidak semata atau melulu dia tujukan untuk kaum muslim karena dia juga melakukan hal yang sama terhadap agama lain. Dalam hal ini, Rose berpendapat tindakan “penyindiran” yang dilakukan oleh dirinya dan para kartunis lainnya di Eropa merupakan bentuk “pengikutsertaan” Islam dalam budaya satire mereka bukan justru mendiskriminasikan.

We believe that incitement to religious hatred is a new form of racism. Western institutions concerning themselves with Islamophobia agree that Islamophobia is worse than racial discrimination. In practice they may be difficult to distinguish, but when Muslim immigrants on a daily basis are subject to physical and moral attacks in Western countries it is the negative result of a campaign of hatred that undermines the human rights of those Muslim victims.

Sekretaris Umum OIC (Organisation of Islamic Cooperation) Ihsanoglu dalam interiewnya dengan Jyllands-Posten memaparkan dalam argumennya diatas bahwa sikap defensif dan terlalu sensitif ini yang pada akhirnya memunculkan sentimen “Islamophobia”, Islam ditempatkan sebagai agama anti kritik dan intoleran terhadap perbedaan dan kebebasan sebagai konsekuensi hidup di open society, dampaknya justru lebih buruk dari sekedar diskrimanasi yakni perlakuan buruk yang harus diterima para imigran muslim.

Kebebasan dan Toleransi: Dua sisi Dalam Satu Koin

Kejadian penembakan di Paris merupakan penodaan terhadap nilai kemanusiaan dan penentangan ekspresi kebebasan sekaligus wujud intolerasi sekelompok radikalis yang justru merusak citra muslim di dunia dengan sematan sebagai kaum intoleran.
“Tolerance and freedom of speech reinforce each other. Free speech makes sense only in a society that exercises great tolerance of those with whom it disagrees. Historically, tolerance and freedom of speech are each other’s prerequisites rather than opposites. In a liberal democracy, the two must be tightly intertwined.”

Fakta bahwa kita, sebagai pemeluk agama sekaligus penduduk dunia, dihadapkan pada keberagaman bukan keseragaman, perbedaan baik itu budaya, cara berpikir dan sebagainya merupakan produk dari keberagaman terlebih kita merupakan bagian dari open society dua instrumen yakni kebebasan dan toleransi bukanlah hal tidak bersinggungan dan sama sekali tidak berhubungan, keduanya justru merupakan dua aspek yang saling terikat dan melengkapi. Kejadian serupa seharusnya tidak lagi terulang jika dua instrumen dasar tersebut dihayati dan diterapkan. #Prayforhumanity dengan penghargaan pada kebebasan dan toleransi pada keberagaman.

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s