Posted on

Canal To Your Heart

image

Terlalu cepat kumenyayangimu, tak cukup bercerita. Namun terlanjur kumencintaimu, meski kutak mengenalmu

Kedua mata itu begitu berbinar menatapku. Aku begitu mengingatnya, masih sangat mengingatnya. Senyum itu laksana berkas cahaya yang berpendar di kegelapan. Aku begitu mengingatnya, masih sangat mengingatnya. Setelah sekian lama aku mencari sebuah kata. Dan aku menemukannya dengan cara yang tidak biasa. Aku menemukan ketulusan pada dirinya. Pada diri perempuan berambut sepundak dan bermata sendu itu. Entah, tetapi sorot matanya begitu mendung menurutku. Hari itu, hari kedelapan bulan sebelas. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Tidak akan pernah.

       Aku berjanji akan menemukanmu, aku berjanji akan mencarimu, aku berjanji akan membuktikannya pada dunia bahwa perbedaan begitu indah terjalin diantara kediaman dan keheningan. Meskipun kita terlalu berbeda. Meskipun aku harus bertaruh dengan waktu untuk menemukan sepotong hatimu kembali. Tunggulah, aku! Biarkan aku yang menyeka airmatamu. Yang dulu merembes tanpa kau sadari karena sebuah luka. Biarkan aku menjadi sapu tangan yang menyeka airmata lukamu. Tunggulah, aku!

Hingga berkas cahaya itu benar-benar terasa menyorot kearahku. Dan aku terbangun dari sebuah mimpi tentang aku. Tentang mimpi yang ada hanya aku seorang diri. Mematung dalam gelap, entah tempat apa itu. Aku benci harus tersadar dari mimpi yang tanggung. Yang seringkali akupun nyaris lupa tentang apa. Yang aku tahu, hanya ada satu nama yang mengutit alam bawah sadarku. Ya, dia Thian Ang Nguyen, masih perempuan itu.

Aku bergegas meraih tas ransel hitamku segera, setelah tersadar hanya tersisa 30 menit bagiku untuk tiba di kantor tepat waktu. Perjalanan yang harus aku tempuh sejauh 15 km, ditemani kepingan-kepingan ruh yang masih berserakan, mencari jalan membentuk bingkai utuh dalam ragaku. Ah, kenapa dengan jalanan di Hoi Chi Minh yang kali ini menyambutku dengan kepulan asap roda empat. Menjadi satu-satunya pengendara roda dua di kota ini, membuatku merasa seperti seorang penantang dunia. Bergulat dengan pesumo yang notabene berkilo-kilo lebih berat dariku. Ya, penantang dunia yang tidak tahu diri.

Mataku terpaku pada sebuah pohon rindang yang berada di samping kedai kopi ‘Ai Tam Bham’. Pikiranku seperti tercekat untuk memainkan penggalan memoirku waktu itu. Seorang perempuan dengan dress berwarna hitam selutut, menggenggam erat tas jinjingnya seolah itulah hartanya yang paling berharga. Wajahnya linglung dengan pandangan tak menuntu menguliti setiap jengkal pemandangan yang tertangkap oleh kedua matanya.

Gemuruh yang bersahutan bergelut dengan kilat yang memekikkan pendengaran membuat perempuan itu kian gusar dan menarik dirinya bersandar di tubuh pohon rindang yang kokoh. Aku menjadi pengamatnya di kejauhan kala itu. Di dalam kedai kopi sembari melapangkan pandanganku pada jalanan yang diguyur hujan yang kian deras, ditemani secangkir kopi yang menghangatkan tubuhku. Perempuan itu masih memegang erat tas jinjing berwarna biru dalam pelukkannya. Memeluknya kian erat dengan tubuhnya yang terlanjur kuyub. Hingga sebuah mobil menyipratkan air kubangan yang tepat mengenai wajah dan tubuhnya. Perempuan itupun bermandikan air kubangan.

Seketika menggerutu sembari mengibaskan baju dan melap tasnya yang terkena cipratan air. Dan itu membuatku terkekeh nyaris tersedak. Mungkin dia akan melemparku dengan tasnya jika mengatahui di sudut pojok sana, seorang pemuda tengah menertawakan kemalangannya. Hingga hujan mereda perempuan itu masih berkutat dengan kesialannya.
Aku mengulurkan sapu tangan biruku kepadanya. Berharap benda itu bisa menyeka sisa-sisa air di wajah bulatnya. Wajah bulatnya terlihat begitu sirkular dari jarak pandangku. Kombinasi yang semburna dengan bola mata dan rambut berponi sepundaknya.

“cảm ơn bạn.” Dengan setengah ragu-ragu perempuan itu mengambil sapu tangan itu. Dan dengan senyumnya yang sedikit dipaksakan menyeka sisa air yang masih mengenai wajahnya. Mungkin dibenaknya saat itu berkecamuk pertanyaan. Siapa yang tidak mempertanya kedatangan seseorang secara tiba-tiba di tengah hujan menawari sapu tangan? Mungkin diapun curiga aku telah mengamatinya sedari tadi.

“bạn được chào đón.” Tidak seorangpun merasakan usaha yang aku lakukan untuk melontarkan sebaris frase itu. Entah apa yang tersaring di pendengaran perempuan itu, tapi wajahnya hanya mengukir senyum tipis yang tanggung merespon kalimatku. Lidahkupun seperti kelu.

Dan jika ada seseorang yang memberikanku pertanyaan, negara dengan aksen tersulit, Vietnam mungkin menjadi salah satunya. Ditambah tidak ada upaya dariku untuk mempelajari lebih dalam bahasa di negara ini. Bahkan mengeja perkatanya saja membuatku pening seketika.     Kedatanganku ke negara ini karena research project salah satu agenda perusahaan tekstil tempatku bekerja saat ini. Dalam rangka ekspansi anak perusahaan ke negara tetangga, mereka mempercayakan projek ini kepadaku untuk membandingkan bahan mentah pembuatan baju di Indonesia dan negara tetangga yang rata-rata mengimpor bahan dari negara ini dengan kualitas rendah dan membantingnya dengan harga tinggi di pasaran. Jujur saja, tidak sekalipun terbersit di pikiranku akan untuk menjejakkan kaki di tempat ini.

Tapi perempuan itu membuatku menikmati bergulirnya hari selama satu bulan disini. Perempuan itu menyuguhkanku sebuah rasa yang berbeda. Perasaan getir yang tak terelakkan. Perasaan membuncah yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Begitu hebat dan kuat. Dan hari pertama aku bertemu dengannya berakhir dengan senyum yang menggantung indah di wajah sendunya. Wajah sendu itu tidak hanya terkombinasi sempurna tapi juga memberikan ketenangan bagi pemandangnya. Setidaknya bagiku.

Perempuan itu mengajariku untuk kembali berani berharap. Berharap kesempatan yang sama akan terulang kembali. Perasaan seperti ini yang lama aku rindukan. Lama hilang setelah hati ini dikhianati oleh pengharapan. Kediaman yang memberikan kenyamanan. Kediaman yang mengawali kembali sebuah pengharapan. Bahkan kedua mataku enggan untuk terlelap. Aku takut terbangun keesokan harinya dan perasaan itu akan mengabur begitu saja. Dan ketakutan itu hanya membuatku semakin berani untuk berharap.

Mungkin karena alam bawah sadarku terlalu menginginkan perjumpaan itu terulang kembali. Waktupun mempertemukan kami kembali. Aku melihat perempuan yang pada waktu itu mengenakan dress berwarna hijau todsaka deganrambut kucir kuda, masih dengan poni yang membuatnya terlihat anggun. Dan wajah itu begitu bercahaya.
Kami bertemu kembali di kedai kopi itu. Aku melihat duduk seorang diri pada waktu. Perempuan itu berkawan buku di yang berda di genggaman tangannya. Terlihat begitu tenang dan bersahaja. Ssama-samar aku lihat senyum tipis di wajahnya. Hingga kuberanikan diri untuk mendekat kearahnya.

Perempuan itu tersenyum. Senyum pertama kali yang aku lihat semenjak dua hari yang lalu. Dia mempersilahkanku untuk mengisi kursi kosong di depannku.
“The Great Gatsby” judul novel yang berhasil melarutkan perhatian perempuan itu sedari tadi.
You are here” Perempuan itu memecah keheningan. Kediaman yang nyaman. Masih sama seperti kurasakan setiap kali berada di dekatnya. Aku hanya mengangguk kecil.
“Ah, what’s your name, Miss?” Aku mencondongkan kepalaku kearahnya. Hanya untuk memastikan aku bisa melihat pantulan wajahku di bola mata kristalnya.

Perempuan itu kembali tersenyum. Senyum yang membuat detak jantung bekerja tidak ritmis. Senyum yang aku takut membuatku terlena dan enggan terlelap seperti waktu pertama kali aku melihatnya. “Thian Ang Nguyen. Call me Thian. And you, Mr?” Perempuan bernama Thian itu meletakkan buku yang sedari berada di tangannya. Meletakkan kedua tangannya bersandar apik di atasnya.
Andromeda Setyatama. I have a hardtime speaking in Vietnamesse, my tongue simply can adjust to the words. But your name is an exception.” Aku menunduk sejenak sebelum kembali menegakkan kepalaku hanya untuk melihat senyum tipis itu terukir merespon kalimatku.
“Gatsby selalu melihat Daisy, dengan tatapan seperti ini. Gatsby selalu menatap Daisy dengan kekaguman. Daisy adalah keindahan di mata Gatsby.” Aku suka mendengarnya. Aku suka mendengar suaranya yang begitu mendayu. Membuatku seolah hanyut dalam kedamaian tak bertepi.

Perempuan itu membuatku menghayatinya. Memaksaku untuk mau tidak mau menyelami kedalaman hatinya. Aku menyukai tatapannya yang sayu. Tatapan itu berbinar dan bercerita. Tatapan itu tersenyum saat wajah itu tersenyum. Menit demi menit berlalu dengan kediaman. Kediaman yang memberikan rasa nyaman. Yang membuatku terus mengingankannya.       Menghabiskan putaran waktu dalam diam dengannya membuat semuanya berharga. Perempuan itu kembali larut dalam khalayannya. Melihatnya bergumam sembari membuka lembar demi lembar buku di hadapannya. Mengamati setiap gerak-geriknya yang tak sedetikpun luput dari pandanganku. Dan perempuan itu begitu nyaman dalam kediaman yang tercipta. Sesekali melemparkan senyum. Sesekali melihat jam tangannya. Dan sesekali saling melemparkan pandangan. Perempuan itu bahkan terlihat begitu anggun dalam kediaman.

“Anda tidak memiliki kesibukan lain setelah ini? Maksud saya, tidak masalah jika Anda meninggalkan saya seorang diri.” Perempuan itu terdiam sejenak memberikan tatapan matanya yang tanpa dia sadari telah membius jiwa seorang anak adam, “Maksud saya, jika Anda tidak berkenan berada disini, Maksud saya jika mungkin Anda…”
“Bagi saya, setiap detik, terhitung dari satu jam yang lalu, telah dan akan menjadi detik-detik yang terlalui dengan berharga. Jadi Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.” Aku menyela kalimatnya yang berulang. Aku tahu dia menyukai keberadaanku. Begitupun aku yang menyukai berada di kediaman dengannya. Larut dalam keheningannya. Betapapun perempuan itu mencoba menyembunyikannya. Rona wajahnya yang tersipu terlihat begitu mempesona di mataku.

Dan pertemuan itu berlanjut. Setiap waktu yang terlewatkan hanya membuatku semakin mengagumi keindahannya. Keindahan wajahnya dan hatinya. Aku terlebih menyukai hatinya. Terlanjur terlalu dalam menyelaminya dan tidak peduli dimana hilir dari arusnya. Kebersamaan dalam kediaman bersamanya. Dua hati yang tertaut dalam kediaman. Kedai ini adalah sejarah cerita kita. Tempat ini adalah saksi hidup dua hati yang bersuara dalam diam. Saling mengagumi dalam keheningan.

Dan hari itu. Hari kedelapan bulan kesebelas. Tidak akan pernah aku lupakan. Saat aku melihat wajah itu untuk pertama kalinya mengurai air mata. Saat wajah sendu itu meraung dan merintih dalam luka. Ya, luka fisik yang mungkin tidak seberapa jika dibandingkan luka hatinya. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Saat kepala itu bersandar di pundakku mengurai luka hatinya. Perasaan getir yang begitu kuat aku rasakan. Perasaan terlalu sulit untuk aku tafsirkan dengan kata-kataku sendiri. Aku ingin memberontak pada takdir untuk kesedihannya. Tapi aku memilih untuk menjadi penawar bagi hatinya. Aku memilih menjadi selimut yang menjaga ritme denyut nadinya.

Perempuan itu tidak pernah memilih garis hidupnya tersurat demikian. Dia tidak pernah memiliki pilihan. Lukanya tertutup begitu sempurna dalam balutan yang dia kenakan. Begitupun luka hatinya yang tertutup begitu sempurna dengan keindahan hatinya. Saat wajah itu tersenyum melihat hamparan ilalang. Saat wajah itu hanya dalam kediaman membalik lembar demi lembar buku yang dibacanya. Luka hati yang dengan begitu sempurna dia sembunyikan. Malam itu saat dua hati bergumul dengan kediaman yang suram. Malam itu saat aku melihat luka lebam di sekujur tubuhnya. Malam itu saat dia mengatakan padaku, semuanya baik-baik saja. Dan malam itu juga aku mengetahui, bahwa semuanya tidak pernah baik-baik saja dipihaknya.

“Gatsby selalu melihat Daisy, dengan tatapan seperti ini. Gatsby selalu menatap Daisy dengan kekaguman. Daisy adalah keindahan di mata Gatsby.” Perempuan itu lantas melarutkan diri dalam dekapan. Dalam dekapan pria yang bersanding merangkul wujudnya. Malam itu aku merasakan perasaan ini begitu membuncah. Malam itu aku menyadari, aku membutuhkan kehadiran perempuan itu untuk melalui hari demi hari. Malam itu, tidak akan pernah aku lupakan. Karena malam itu, menjadi malam terakhir aku melihat wajah sendu perempuan yang aku cintai.

Perempuan itu memang tidak pernah memilih jalan hidupnya sendiri. Karena memang tidak pernah tersisa pilihan untuknya. Termasuk menjadi seorang istri belian seorang paruh baya yang menorehkan luka di fisik dan hati perempuan yang aku cintai. Seorang cina paruh baya yang sengaja membeli fisik perempuan yang aku cintai hanya untuk menjadi pemenuh nafsu duniawinya dengan memanfaatkan alasan himpitan ekonomi. Persetan dengan semua itu! Luka itu tidak seharusnya tertoreh dan membekas di tubuh perempuan yang aku cintai. Dan saat itu aku hanya bisa menyalahkan waktu yang tidak memberikanku kesempatan untuk memberikannya kebahagiaan.

Di kedai itu terukir cerita kita. Di kedai itu yang menyisakan kegetiran yang begitu mendalam. Dan saat tersadar sudah lebih dari satu jam aku mematung di tempat ini. Aku hanya bisa memejamkan mata mencoba menyembunyikan kegetiran dan kesedihan dengan sempurna. Sama seperti perempuan itu. Perempuan yang aku cintai.
“Andro, perusahaan memerlukanmu untuk research project di China.”
“Tut tut tut…”

Aku berjanji akan menemukanmu, tunggulah aku!

Hingga akhirnya ku terjebak
Dalam kesalahan ku ?tuk mencintaimu
Hingga kini aku tak mampu untuk melepas diriku
Dan melupakanmu

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s