Posted on

Dia, Sendiri

Dia menyusur keping memori. Ternyata masih jauh terbentang, tapi rasanya sudah ingin menyerah. Lelah. Tapi ada janji tidak pasti yang sedikit menyulut api yang nyaris padam: yang tertunda untuk diuntai waktu; untuk bersinar sedikit lebih terang. Masih sendiri dan sudah terlalu terbiasa. Waktu dan kumparan didalamnya membentuk Dia menjadi dirinya saat ini; yang memilih untuk kerap tersesat dalam bilik rumit sekepalan tangan. Ingin menangis, jadinya justru tertawa karena yang Dia punya hanya bahunya sandaran yang tidak pernah mengingkari. “Antara terbiasa dan tidak ada pilihan lain ” Lantas Dia mengawang dengan langkah gontai.  Dia berpikir salah ditempatkan di bumi tapi perawakannya identik dengan manusia; dan berpikir seperti manusia tapi masih merasa sepertinya tidak patut.

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s