Posted on

Refleksi Untuk Negeriku

image

“There will be no justice in the world until philosophers became kings.” Dikutip dari pidato Plato (429-347 BCE) berjudul The Republic (1961). Visi sosial yang disingkap oleh Plato hanya akan berhasil apabila sebuah negara dipimpin oleh seorang filsuf yang berkiblat pada kebenaran. Di lain sisi, Wartenderg (2009) dalam bukunya berjudul Big Ideas For Little
Kids menambahkan “Education will not live up to its ideals until we make every student a philosophers”. Seyogyanya Indonesia sebagai negara demokrasi
mengadopsi proses berpikir filosofis yang mengedepankan independensi, radikalitas, kritis dan sistematis. Dan pendidikan merupakan aparatus utama untuk menghasilkan seorang pemikir independen sekaliber filsuf dunia.

Aspek lain yang tidak kalah penting dengan kemampuan berpikir filosofis adalah kemampuan berbahasa asing. Dan usia golden age adalah saat yang tepat untuk
menanamkan etika berpikir filsafat serta mengajarkan bilingualisme karena
pada fase tersebut otak mereka lebih reseptif dan pembangunan sinapsis berjalan lebih cepat (Fernald & Simon, 1984). Dibahas dalam buku The Bilingual Edge (King & Mackey, 2009), dan pada artikel seperti ‘The Power of
the Bilingual Brain’ (TIME Magazine; Kluger, 2013) mengupas keuntungan menjadi bilingual pada usia dini. Salah satu keuntungan yang dipaparkan yakni anak bilingual mengetahui beberapa bahasa yang penting untuk
keperluan dunia kerja, travel, berinteraksi secara efektif dengan kerabat, kemampuan mempertahankan tradisi keluarganya dan berteman dengan seseorang dari latar belakang yang berbeda. Disamping keuntungan yang berhubungan dengan linguistik, para peniliti melakukan investigasi lebih lanjut apakah menjadi bilingual memberikan keuntungan non-linguistik. (Akhtar & Menjivar, 2012).

Dikutip dari Republika dalam artikel “Kemampuan Bahasa Inggris di Indonesia Rendah”, pada tahun 2011 berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dunia EF English First mengumumkan laporan komprehensif pertama tentang indeks kemampuan berbahasa inggris atau EF English Proficiency Index (EF EPI) di 44 negara. Bahasa Inggris di negara-negara itu bukan merupakan bahasa ibu atau bahasa pertama yang digunakan. Kemampauan bahasa Inggris di
Indonesia berada sangat rendah di urutan ke-34, sedangkan Malaysia tembus
di urutan ke-9 (2011). Direktur Marketing English First, Ignatious Untung dalam portal berita Republika juga menyatakan bahwa tidak bisa dinafikan kemampuan berbahasa asing utamanya bahasa inggris berpengaruh dalam mengangkat wibawa Indonesia di dunia international. Konsekuensi logis ini berlaku karena potensi yang dimiliki negeri ini dapat dikomunikasikan dengan baik menggunakan bahasa international tersebut. Pertanyaan yang juga menjadi tantangan bagi pemerintah dan segenap aparatus pendidikan untuk kembali membenahi dan mengevaluasi sistem pendidikan di Indonesia, bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional yang jatuh hari ini 2 Mei, adalah “bagaimana menanamkan proses berpikir filosofis dan meningkatkan kecerdasan linguistik semenjak dini?”, pertanyaan yang akan tetap relevan seiring berkembangnya zaman.

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

2 responses to “Refleksi Untuk Negeriku

  1. Pingback: Rethinking Educational System | The Tread Of Life Seeker

  2. Pingback: Rethinking Education System | The Tread Of Life Seeker

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s