Posted on

Memahat Lekuk Tubuh sebagai Ekspresi Performativitas Gender Feminine pada Perempuan

Berbeda dari konsep hukuman yang tidak menekankan pada aspek kemanusiaan melainkan untuk mempertegas otoritas yang berdampak pada ketakutan dan rasa bersalah, pendisiplinan pada perbaikan dan keamanan. Proses pendisplinan dilakukan dengan beragam teknik untuk mengontrol operasi tubuh melalui pemaksaan (coercion) dan pengaturan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu dengan mekanisme jadwal yang ketat, latihan ala militer dan olahraga. Elemen pendisiplinan meliputi pengawasan (observation), penilaian (judgement), pengujian (examination). Dalam poster WRP diatas, gagasan pendisplinan ditunjukan dengan penempatan manekin yang menjadi representasi ‘pahatan’ tubuh sempurna dan seorang perempuan bergaun merah sebagai prototipe dari proses pendisplinan yang berhasil; dengan lekukan tubuh yang menyerupai manekin disampingnya. Hal tersebut mengindikasikan kepatuhan model tersebut dengan melakukan proses pendisplinan hingga membentuk tubuhnya menyerupai standar pahatan tubuh yang sempurna seperti manekin; pinggul ramping, pinggang besar, kaki kurus dan jenjang serta perut yang rata.

Konsep tubuh yang patuh dibahas oleh Focault dalam karyanya ‘Discipline and Punishment’, berawal pada abad ke-17 yang waktu itu berpandangan bahwa tubuh sebagai kekuasaan. Proses memahat tubuh hingga memeliki lekuk yang detail seperti model manekin menunjukkan kepauhan tubuh untuk dibentuk, digunakan, diubah dan disempurnakan dengan modalitas pemaksaan terus-menerus tanpa pernah berhenti (constant coercien without interruption) untuk mendapatkan hasil menyerupai standart estiteka tubuh ideal seperti manekin. Terdapat intensi untuk menegaskan konstruksi “feminine” dengan standart kepatuhan yang seragam dengan penggunaan gambar diatas. Menyitir pendapat Butler (1990: 174) bahwa persoalan gender hanya semata persoalan performativitas, proses imitasi dan pengulangan yang tidak pernah berhenti; dengan kata lain melalui persistensi proses pendisplinan hingga terbentuk konsepsi ideal tentang “feminine” dan “maskuline”; untuk tidak disamakan dengan “male” dan “female” yang merupakan jenis kelamin secara biologis. Butler (1990: 136) menggambarkan bagaimana realness atau kebenaran tentang gender dan seksualitas diproduksi dan direproduksi melalui serangkaian tindakan, gestur dan hasrat yang mengimplikasikan identitas gender paling essensial. Waria, obyek yang dikaji oleh Butler, harus melakukan serangkaian pratik dan prosedural tertentu untuk memperoleh bentuk yang diidealkan di mana gesture dan penampilan mereka dianggap feminin. Praktik ini bagi mereka, menurut Butler, tidak sekadar menirukan femininitas perempuan.

Lebih jauh, mereka juga menunjukkan bahwa femininitas adalah sebuah praktik peniruan, baik itu ketika dilakukan oleh waria maupun perempuan. Singkatnya, penentu the effect of realness adalah kemampuan untuk menghasilkan naturalised effect (Butler, 1993: 129). Dengan demikian, performativitas gender merupakan sebuah konstruksi sosial dari naturalised effect yang terkonsep melalui proses yang panjang hingga dititik persetujuan akan konstruksi biner yang diusung kedua sifat yang saling polar tersebut saat ini. Konstruksi biner ini menghasilkan produk karakter yang melekat pada masing-masing kategori, “masculine” memiliki sifat keras, tabiat untuk berburu, aggresive dan melindungi, dan “feminine” memiliki sifat halus, tabiat untuk merawat, submissive dan lemah-lembut. Tidak hanya produk karakter yang melekat namun keseragaman karakter fisik bagi masing-masing kategori, “masculine” memiliki tubuh atletis, berotot dan berambut pendek yang mewakili karakter melindungi sedangkan “feminine” memiliki tubuh ramping dan berlekuk (pinggang ramping atau kecil, pinggul lebar, kaki kurus dan jenjang, tangan yang kecil serta perut yang rata) dan berambut panjang secara berangsur-angsur membentuk evolusi konstruksi budaya patriarkal. Konsep iklan WRP tersebut mencoba menguatkan ekspresi performativitas gender feminine dengan karekter fisik “feminine” yang ideal dapat diperoleh dengan mengkonsumsi produk tersebut.  Pendisplinan pada tubuh untuk mencapai sebuah standar ‘pahatan’ yang sempurna untuk menguatkan impresi ‘feminine’ yang linier dengan lekukan tubuh yang detail merupakan bentuk estetisasi tubuh; tubuh dipatuhkan untuk sebuah tujuan estetik atau keindahan.

Ekspresi perfomativitas gender yang mengarah ke karaker fisik ‘feminine’ lantas memunculkan keseragaman bagi tubuh untuk dapat memenuhi standart estetik. Dalam gambar tersebut, pendisiplinan tubuh dilakukan untuk mencapai standart estetika tubuh yang menyerupai manekin; bentuk tubuh seperti itulah yang dianggap estetis atau indah dan perempuan berbaju merah sebagai produk pematuhan tubuh yang berhasil dengan mengkonsumsi produk yang dipromosikan dengan memiliki lekukan tubuh yang terpahat menyerupai manekin. Standart estitetika tubuh seperti barbie tersebut menjadi pemakluman bawah sadar yang disepakati sebagai ekspresi permormativitas gender feminine pada perempuan. Modalitas ekspresi performativitas gender feminine dengan pendisplinan tubuh untuk mencapai standart estetika tertentu dengan mengkonsumsi produk yang diiklankan agar mampu mempersuasi khalayak tidak terlepas dari penggunaan kata-kata yang seringkali tidak literal atau berupa metaphor. Lakoff dalam karyanya Methapors We Live By mendefinisikan metaphor sebagai pemetaan lintas-domain dalam sistem konseptual. Asumsi lama yang keliru tentang penggunaan bahasa seringkali masih banyak yang beranggapan bahwa semua bahasa sehari-hari yang konvensional adalah harfiah dan tidak metaforik sehingga masih banyak yang beranggapan subjek ujaran dapat dipahami secara harfiah tanpa metaphor. Hal ini juga berlaku dalam definisi leksikon bahwa makna dan konsep yang dipakai dalam tatabahasanya yang ada di kamus adalah harfiah, bukan metoforik. Tekstualisasi tubuh menjadi salah satu modalitas penting untuk menguatkan impresi performativitas gender feminine selain aspek visual. “Pahat Setiap Lekuk Indahmu” merupakan bentuk tekstualisasi tubuh dengan menggunakan metaphor yang terbentuk melalui serangkaian konseptual blending yang memfriksikan domain mental yang berbeda membending sebuah konsep yang baru namun dapat dipahami, dalam hal ini metaphor yang  digunakan konsep perubahan yang progressif atau bergerak dengan memahat setiap lekuk tubuh untuk menghasilkan standar tubuh yang estetis.

—–

P.S. The only satisfying thing this semester because I got 90 for it (for ‘Tubuh and Budaya’ course). The rest make me sigh a deep breath at least now I know my self better. 

Advertisements

About Let's Get The Beat!

not yet a period

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s