It’s just another day

Remember that one night on the town

You could be my ‘unintended friend’

Look at the blue skies gone gray

The worst is almost over


—-

Let’s have another one, ready for the indefinite counting?
Remember still that short half a day togetherness we ever had? 

It was that another day, with the girl I like

—-

I never knew that cupid felt like this

I’m willing to buy his arrows of loneliness

When my heart broke did you like the sound of it?

You said at least a song will come out of it

—-

Under the bright blue skies before it shifted and at last gone grey 

I left you a question to be answered, have you found it yet?

Before we made a wrap of the day

So, what is loving capable of doing?

It’s infinite, ever so elusive. It works like a magic.”

I’m moving on, I don’t even know her


Yes, that’s the end.  

We said our last goodbye

I think I’ll go home and cry


This is song for you

It is just another day


The Neighborhood Grass

I set out on a narrow way many years ago

Hoping I would find true love along the broken road

—–

Here I firm stand, watching the neighbourhood grass

Seemingly ravishing and spoiling

What seems to never within the reach


Strike straight strong sense of self

Questioning the honour with full doubt

Of foggy unpromising the road taken


Here I blow prayer, the remaining stack of pride

For the neighbourhood grass is long believed greener

So, I’d rather tilted askew to the vision glittery

As the wiser told to love the mystery
To stop compare and full proud, 

Walk the road taken

—–

That God blessed the broken road

That led me straight to you.


I could see how every sign, pointed straight to you

Refleksi Untuk Negeriku

image

“There will be no justice in the world until philosophers became kings.” Dikutip dari pidato Plato (429-347 BCE) berjudul The Republic (1961). Visi sosial yang disingkap oleh Plato hanya akan berhasil apabila sebuah negara dipimpin oleh seorang filsuf yang berkiblat pada kebenaran. Di lain sisi, Wartenderg (2009) dalam bukunya berjudul Big Ideas For Little
Kids menambahkan “Education will not live up to its ideals until we make every student a philosophers”. Seyogyanya Indonesia sebagai negara demokrasi
mengadopsi proses berpikir filosofis yang mengedepankan independensi, radikalitas, kritis dan sistematis. Dan pendidikan merupakan aparatus utama untuk menghasilkan seorang pemikir independen sekaliber filsuf dunia.

Aspek lain yang tidak kalah penting dengan kemampuan berpikir filosofis adalah kemampuan berbahasa asing. Dan usia golden age adalah saat yang tepat untuk
menanamkan etika berpikir filsafat serta mengajarkan bilingualisme karena
pada fase tersebut otak mereka lebih reseptif dan pembangunan sinapsis berjalan lebih cepat (Fernald & Simon, 1984). Dibahas dalam buku The Bilingual Edge (King & Mackey, 2009), dan pada artikel seperti ‘The Power of
the Bilingual Brain’ (TIME Magazine; Kluger, 2013) mengupas keuntungan menjadi bilingual pada usia dini. Salah satu keuntungan yang dipaparkan yakni anak bilingual mengetahui beberapa bahasa yang penting untuk
keperluan dunia kerja, travel, berinteraksi secara efektif dengan kerabat, kemampuan mempertahankan tradisi keluarganya dan berteman dengan seseorang dari latar belakang yang berbeda. Disamping keuntungan yang berhubungan dengan linguistik, para peniliti melakukan investigasi lebih lanjut apakah menjadi bilingual memberikan keuntungan non-linguistik. (Akhtar & Menjivar, 2012).

Dikutip dari Republika dalam artikel “Kemampuan Bahasa Inggris di Indonesia Rendah”, pada tahun 2011 berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dunia EF English First mengumumkan laporan komprehensif pertama tentang indeks kemampuan berbahasa inggris atau EF English Proficiency Index (EF EPI) di 44 negara. Bahasa Inggris di negara-negara itu bukan merupakan bahasa ibu atau bahasa pertama yang digunakan. Kemampauan bahasa Inggris di
Indonesia berada sangat rendah di urutan ke-34, sedangkan Malaysia tembus
di urutan ke-9 (2011). Direktur Marketing English First, Ignatious Untung dalam portal berita Republika juga menyatakan bahwa tidak bisa dinafikan kemampuan berbahasa asing utamanya bahasa inggris berpengaruh dalam mengangkat wibawa Indonesia di dunia international. Konsekuensi logis ini berlaku karena potensi yang dimiliki negeri ini dapat dikomunikasikan dengan baik menggunakan bahasa international tersebut. Pertanyaan yang juga menjadi tantangan bagi pemerintah dan segenap aparatus pendidikan untuk kembali membenahi dan mengevaluasi sistem pendidikan di Indonesia, bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional yang jatuh hari ini 2 Mei, adalah “bagaimana menanamkan proses berpikir filosofis dan meningkatkan kecerdasan linguistik semenjak dini?”, pertanyaan yang akan tetap relevan seiring berkembangnya zaman.