Asa Aska: It’s Never Too Late

image

Give me a second I, I need to get my story straight

Langkah 60 derajat Aska menapak lantang memasuki kampus barunya. Kampus biru yang anggun di cakrawala penglihatannya. Aska menghela nafas panjang mereka-reka kejadian yang akan mengisi kehidupan barunya.

“Akhirnya aku kuliah lagi.” Aska berbisik lirih di dalam hatinya. Gadis semampai beroman melankolis itu lantas menderapkan langkah kecilnya. Menyusuri jalan yang menyerupai miniatur pegunungan. Berkelok, menanjak, menurun. Persis seperti analogi hidup gumamnya dalam hati. Tapi Aska menikmati panorama yang disuguhkan di hadapan matanya. Terlihat dari visualnya yang mengukir senyum samar.

Hidup untuk passion. Itulah Aska, seorang pemimpi besar yang memandang dunia dalam kacamata naifnya. Ya, bagi Aska passion adalah segala-galanya. Aska sadar hidup hanyalah sekali. Dan baginya tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi diri kita yang seharusnya.

Seperti kutipan pada buku George Eliot ”It’s never too late to be what we might have been”. Berbicara tentang cinta dari kacamata Aska. Tidak jauh berbeda dengan cita. Cinta dan cita baginya sama. Kebahagiaan. Suatu pilihan yang tepat pasti akan membuat seseorang bahagia. Dan Aska kini tengah dalam perjalanannya mencari kebahagiaan yang dia cari. Di kampus biru ini. Lamun-lamun Aska mendamba citanya akan membawanya pada cinta yang tepat. Pada mahligai kebahagiaan yang sempurna.

Hari itu Aska menandai agenda pertamanya di kampus biru. Screening. Salah satu agenda fakultas untuk menjaring minat dan bakat para mahasiswa baru di kampus ini. Aska dengan amunisi tekatnya yang penuh ingin menunjukkan yang terbaik dalam dirinya. Matanya berbinar menderapkan langkah menuju Student Centre (SC) –tempat screening di lakukan.

Horizon pandangan Aska meluas ke penjuru SC. Diamatinya lalu-lalang panitia dan kerumunan orang-orang yang dia perkiraan adalah calon mahasiswa baru sama seperti dirinya. Aska merasa dejavu dengan situasi ini. 2 tahun yang lalu. Hatinya seperti terenyuh. Langkahnya telah jauh melangkah. Meniti tangga cita yang dia impi-impikan. ‘Mungkinkah ini yang terbaik?gumamnya lirih di dalam hati.

Advertisements