​Binary Structure  in M.Butterfly: Women as a Second Class Characters

M.Butterly mainly emphasized its plot in binary structure; binary opposition (also binary system ) is a pair of related terms or concepts that are opposite in meaning. Binary opposition is the system by which, in language and thought, two theoretical opposites are strictly defined and set off against one another. Emphasizing the lesser role of women and east part countries as the object of colonialization to the western. This issue especially brought up in the M.Butterfly, as it is cited from the article, Performance and Perception: Gender, Sexuality, and Culture in David Hwang’s M. Butterfly, below:

  “M. Butterfly (1986) tackles the very foundation of Western identity by questioning and troubling its reliance on binary opposition.”

“The fetish of cultural authenticity” and setting “one side of the binary against the other, porn against art, Orientalism against Occidentalism, private against public, autobiography against theory-to produce an intellectual slippage that holds the binary contradiction at one moment of visible simultan.” 

The concepts brought up in the article and as well further discussed in the class that as well in line with the group findings about the issue that binary concept basically put women only in the inferior side. Women and Eastern people depicted as possessing a trait of feminity; submissive, can’t think for themselves and Men and Western people are possessing a trait of masculinity: aggressive and dominant. The issue of transvestism and cross-dressing are as well explained and discussed in the class and group findings. Robert Stroller distinguishes the two terms:

Transvestites “put on clothes of the opposite sex because the clothes are sexually exciting to them.” While “cross-gender homosexuals cross-dress because they want to be feminine or masculine without actually wanting to be male or female. 

It is quite hard a task to define which one Song is justly labelled since the motive of her doing the act is initially pure performance but he carried on the role consciously as a perfect women for political and personal purposes without actually wanting to change himself to be a woman but instead to be love for who he is by Gallimard at last. If there is anything missing from the article is the talking about its genre since the focus of the article is on its theme; gender, sexuality and culture, but it was briefly discussed in a class and in group findings that has the discussion dragged the genre of the play is contemporary play, judging by the year of its production (1986). There isn’t as well further digging into the background of the author, David Hwang, as a born Chinese descendants who lived himself in a different culture of America and its impact on his writing the play, this issue brought up in a class discussion as it is basically represented David view towards binary structure of East vs West, Feminine vs Masculine that becomes the concern in the play.

Women as a second-class characters in literary works

From the three discussed literary works: Frankenstein, Monkey Beach, and M.Butterfly all of them put women -rather intentionally as a secondary characters. Women with its historical construction of feminity positioned as a characters of lesser significance, even though it goes the reverse in Monkey Beach, with the portrayal of its protagonist, Lisa as a rebel and rather masculine in a way she did what commonly did by men; smoking, drinking, and consuming drugs.  M.Butterfly especially makes it obvious by the insignifant roles of the few females characters who appear in minor, supportive roles are caricatured and ridiculed: Helga, the neurotic wife, Renee, the man eater, and Chin, the butch woman. Garber further explained this seemingly misogynist portrayal: 

What is really at stake here, it seems to me, is a subconscious recognition that “woman”  in patriarchal society is conceived of as an artifact- and that the logical next step is the recognition that “man” is likewise not fact, but artifact, himself constructed, made of detachable parts. 

The binary structure, to put greater emphasize in Men vs Women, in Literary works are indisputable even now, feminists are struggling still for the same spotlight, and its forward formed preconceptions that puts the latter in disadvantages. 

Advertisements

Menyerap Falsafah Dewi Ruci; Sangkan Paraning Dumadi, Memayu Ayuning Buwono

Orang yang tercerahkan secara rohaniah akan senantiasa menjaga keseimbangan psikologisnya baik-baik dan terus berusaha menjaga stabilitas ketenangannya.” (Geertz, 2013)

—-

Dewi Ruci berkisah tentang perjalanan Bima saudara kedua dari lima kakak beradik Pandawa untuk menemukan air hidup yang syarat akan falsafah hidup. Berikut ringkasan kisahnya.

Dalam rangka persiapan perang agung Bratayuda lawan-lawan Pandawa, para Kurawa, berusaha untuk menyingkirkan Bima. Demi tujuan itu Durna, bekas guru Bima dan sekarang pembimbing rohani para Kurawa, memerintahkan Bima untuk mencari air hidup yang terdapat dalam gua Condromuka di sebuah hutan yang jauh. Tanpa menghiraukan bahaya-bahaya serta peringatan-peringatan kakak-adiknya yang mencurigi perintah itu, Bima berangkat. Tujuan ia membongkar pohon-pohon serta merusak seluruh hutan untuk mencari air itu. Dengan demikian ia menimbulkan kemarahan dua raksasa yang tinggal disitu. Sesudah suatu perkelahian hebat Bema berhasil membunuh kedua-duanya; dengan demikian ia sekaligus membatalkan kutukan yang sudah ditimpakan atas mereka oleh Batara Guru. Mereka kembali ke wujud mereka yang sebenarnya sebagai Dewa Indra dan Bayu dan dengan rasa terima kasih memberi tahu kepada Bima bahwa air itu tidak dapat diketemukan dalam hutan ini.

Bima kembali kepada Duran yang sekarang menjelaskan bahwa air itu terdapat di dasar samudera. Walaupun Bima sendiri mulai curiga namun ia tetap bertekad mencari air hidup itu meskipun harus dibayar dengan nyawanya. Ratapan kakak-adiknya tidak dihiraukannya. Ia berangkat lagi. Perjalanannya panjang. Sampai dipinggir samudera ia menceburkan diri dengan keberanian ke dalam gelombang-gelombang yang bergemuruh. Sampai ke tengah laut yang dalam ia diserang oleh naga raksasa Nemburnawa. Tetapi disobek-sobek Bima dengan kuku keramat Pancanaka. Bima merasa lelah dan membiarkan diri didorong kesana kemari oleh ombak-ombak samudera. Keadaan menjadi amat sepi. 

Pada saat itulah tiba-tiba muncul wujud kecil yang persis mirip dengan Bima sendiri. Wujud itu memperkenalkan diri sebagai Dewiruci, sebagai penjelmaan yang Maha Kuasa sendiri. Ia mengajak Bima untuk memasuki batinnya melalui telling kirinya. Walaupun Bima merasa ragu-ragu namun ia taat. Tanpa kesulitan ia memasukkan tubuhnya yang besar ke dalam batin Dewiruci. Semula ia menemukan diri dalam kekosongan tanpa batas dan kehilangan segala orientasi. Namun sesudah beberapa saat ia melihat kembali matahari, tanah, gunung dan laut. Ia mengerti bahwa dalam tubuh kecil Dewaruci seluruh alam luar termuat secara terbalik (jagad walikan). Ia melihat empat warna, tiga daripadanya, yaitu kuning, merah dan hitam melambangkan nafsu-nafsu yang berbahaya yang harus dijauhi sedangkan warna keempat, putih, melambangkan ketenangan hati. Ia melihat boneka gading kecil yang melambangkan Pramana, prinsip hidup ilahi. Sebuah kilat berwarna delapan membuka realitas terdalam baginya, yaitu bahwa segala-galanya adalah satu dengan dasar Illahi. Dalam kesadaran itu Bima mencapai “kesatuan hamba dan Tuhan”, kesatuan manusia dan yang Illahi: dua-duanya adalah satu tak terpisahkan. 

Dengan mencapai dimensi realists hidup yang terdalam Bima menjadi penguasa atas seluruh bumi: seluruh alam semesta tertampung olehnya, tidak ada lagi yang bisa dipelajari, “dalam kehidupannya ia telah mati” dan ia “hidup dalam kematiannya”. Dengan kekuatan yang tak terkalahkan Bima meninggalkan Dewaruci. Dalam ketentraman batin ia pulang kepada kakak-adiknya yang sangat gembira. Dengan seksama ia menyembunyikan apa yang telah terjadi padanya sambil memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditugaskan kepadanya. Sebagaimana dikatakan dalam suatu teks abad XVIII, “wujud lahir dan batinnya selaras seperti bata dalam cetakannya”. (Magnis Suseno, 1991)

Dari kisah Dewi Ruci dapat ditarik sebuah pelajaran yang berharga antara lain: pentingnya penguasaan diri (jagad cilik atau mikrokosmos) yang akan membimbing batin untuk menerima wahyu illahi yang mengarahkannya pada kejelasan tujuan hidup (sangkan-paran) yang dilandaskan pada tujuan non-egoistik. Keselarasan dan kesempurnaan diri itu yang dikatakan dalam teks abad XVII, “wujud lahir dan batinnya selaras seperti bata dalam cetakannya.” Sikap batin itu yang telah lama menjadi koordinat etika jawa yaitu, Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe, Memayu Hayuning Bawono; bebas dari kepentingan sendiri, melakukan kewajiban-kewajiban yang bertujuan untuk memperindah dunia. 

Kawruh Sangkan Paran untuk Meniti Jiwa Manunggal

Telah terjadi transformasi ideologi yang menciderai pandangan hidup jawa yang lekat dengan kebijaksaan hal ini terutama disebabkan karena gerusan roda jaman yang menghujamkan nilai-nilai modernisme: budaya asing, sayangnya hal ini tidak didampingi proses akulturasi yang sehat sehingga justru mengikis nilai kearifan lokal; termasuk salah satunya pandangan jawa. Dari kisah dewi ruci pandangan jawa syarat akan kebijaksanaan yang dihubungkan dengan penemuan kesejatian diri. Jiwa yang telah sempurna dan telah menemukan air hidupnya layaknya Bima akan menjadi jiwa yang manunggal dengan illahi (pamore kawruh Gusti); ditandai dengan ketenangan batin dan keselarasan laku dengan alam numinous atau makrokosmos konsep mistik ini mengarah pada orientasi religi yang dikena dengan priyayi. Jiwa yang telah menemukan sejatinyalah yang mampu mencapai spa yang oleh Jawa dikenal sebagai; kawruh sangkan paraning dumadi: pengetahuan (kawruh) tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala apa yang diciptakan (dumadi) (Magnus Suseno, 1991). Seyogyanya nilai ini tersemat dan terhayati pada setiap orang jawa. 

Kebijaksanaan mistik Jawa berinti pada pemahaman akan ‘sangkan-paran’ tercapai ketika seseorang meluruhkan dirinya seperti Bima dengan ketetapan niatnya untuk menemukan air suci dan menjadikannya satu-satunya tujuan; sangkan paraning dumadi (mengetahui asal dan tujuan penciptaannya). Ketika telah tercapai tahap itu seseorang akan mati sajroning urip (mati dalam hidup) dan urip sajroning mati (hidup dalam mati) karena dia telah menemukan kesejatiannya yang hakiki dan manyatu dengan illahi; tindak-tanduknya hanyalah bentuk kewajibannya untuk menjaga keindahan semesta. Dengannya, kawruh sangkan paran mengajarkan keberlarasan alam lahir (alam luar, kasar, transformasi itu daya bertindak sendiri: makrokosmos) dan alam batin (alam dalam, alus, merupakan kenyataan yg sebenarnya, tempat kekuatan asal yang menentukan hidup manusia: mikrokosmos) dimana alam lahir seyogyanya memuat apa yang ada di alam batin. 

Salah satu aliran kebatinan di Jawa yang menerapkan paham ini adalah Paguyuban Ngesti Tunggal yang memaknai manusia sebagai Tripurusa Illahi; dasar jiwa individual adalah satu dengan roh suci, tahap emanasi Yang Ilahi yang ketiga (Soebardi, 1975). Untuk mencapai kawruh sangkan paran dikenal prinsip Pramana; yang mendasari kesadaran subjektif yang merupakan manifestasi kehidupan ilahi yang dalam aliran Pangestu ditempuh melalui tiga tahap; distansi (penarikan diri dari dunia luar untuk mencapai kejernihan pikiran, meliputi tiga tahap; nrima, sabar, rila), konsentrasi (pencarian kesejatian diri dalam distansi), dan representasi (manifestasi dari dua tahap sebelumnya dalam bentuk kontribusi nyata yang positif bagi masyarakat.) (Mertowardoyo, 2005). Inti dari ajaran Pangestu selaras dengan kawruh sangkan paran mengarah pada poros paran yang sama: Memayu Ayuning Bawana.

Dengan semakin cepatnya laju jaman, sepatutnya masyarakat jawa tidak tergilas oleh rodanya; terutama dengan maraknya budaya pop, sebaliknya tetap menyikalkan akar dirinya pada pandangan Jawa yang syarat akan kebijaksanaan hidup untuk mencapai kemanunggalan jiwa. Jiwa-jiwa yang manunggal yang telah melampaui tiga tahapan dalam Pangestu yang nantinya berperan dalam pembangunan. Pembangunan manusia adalah aset dan motor pembangunan fisik. Berangkat dari penghayatan akan kesadaran Sangkan Paraning Dumadi untuk mewujudkan tataran masyarakat dan pembangunan yang Memayu Ayuning Buwana.