The Thread of Life Seeker

​93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
’cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes

Sandra wandered long the broken road; tired sometimes but always found ways to get the spirit ignited. She once lost and tossed and then crashed hard. But she moved past failures and gave another chance over; even when it meant starting over, yet again and again.

Life is about finding a home, a place or a thing that makes you feel like coming back anytime, and I’m finding it by traveling from one country to another. Simply, to find ‘my home’ .” Keenan was stark overwhelming by the wishful possibility of his future invention; of a ‘home’ in its purest possible definition, in its most essence. Sandra made pause and gave moment a silence to reenact her own of the same concern. She moved aside her strawberry cake in exchange of her giving a serious attention to the figure in front of him; and it was shown vividly by her transparent made form wrinkled on her forehead. Not until she realized a few minutes later the book in her grasp ‘ Are you living or existing’ by Kimanzi Constable gave her a mental burst.

She made firm contact with him before she was ready with her utterance, ” Here, Keenan, hear. At least if you do it right, you will love where you are .” Keenan gave a chance to the words to seep in his mind, “ If you do it right… ”

—-

Every road is a slippery slope

There is always a hand that you can hold on to.

Looking deeper through the telescope

You can see that your home’s inside of you

Pada Suatu Hari, Pada Sebuah Hati

screenshot_20170103-234913.jpg

Hadirnya waktu itu, seperti bising dan riak yang aku butuhkan

Dunia berhentilah sejenak. Lenyapkan bising yang mengganggu

Aku ini ingin tenggelam. Sebentar kedalam ceritamu


Lalu Dia berbisik pada jeda, dihembuskannya nada dengan lirih, “Aku tidak ingin mengakhirinya, sebaiknya aku paksakan saja akhirnya.” Dia mengancang katanya dengan awas dan selalu tertambat, lalu Dia tinggalkan tergelak dalam awang. “Itu masih sama, masih di tempatnya semula. Kutata rapi, dan selalu kupastikan ada. Hanya agar masih disana, karena aku yang menginginkannya.” Dia menyusur kembali bagaimana semuanya bermula; hanya dengan begitu terkikis sedikit ruam yang masih tersisa dalam cerita yang dibaginya pada sebuah malam yang bersahaja.

Malam itu, Dia gusar dengan tanya yang lancang menyuruak diluar kendalinya; sungguh Dia tidak menginginkannya menjadi ulkus hati apalagi membiarkannya meradang. Dia memilih membiarkannya; tanyanya, gelisahnya, kepada dia yang tidak kunjung menyambut risaunya. Hatinya masih memar, dia merasa dipermainkan meskipun dia memilih untuk mendamaikannya dan membuang prasangkanya; tapi lagi-lagi Dia berharap semua menjadi berbeda, jikalau hari itu tidak pernah ada, saat dia tanpa sengaja membuat sebuah kebetulan. “Dan itu yang membuatnya sedikit tertindih, lalu penyesalan yang lain; yang tidak tergantikan, yang terindah dan yang tertinggalkan.”

Malam itu, bising gilasan roda monorel yang beradu urung membuatnya terusik dari pikirnya; yang jauh riuh dan gaduh menggiring kumparan kata dan kenangan yang terbatas diingatannya. Dia mempertanyakan sebuah kepastian tanpa harus mengutarakannya, “Tapi sepertinya dia tidak mampu membacanya atau mungkin aku tidak memahami alurnya, dia seperti susunan kalimat-kalimat yang terangkai hanya untuk menjadi interpretasi multi tafsir. Sedangkan aku, hanya menginginkan yang tidak mengingkari, yang meskipun tidak selalu ada, tapi memberikan hatiku kepastian. Jadi aku biarkan saja kamuflase itu: teman terbaik. Terkadang aku berharap, sebaiknya kebetulan itu tidak pernah ada saja, tidak pernah aku buat sama sekali.”

Kembali Dia merunduk dan menghela dalam pengandaiannya. Dia gontai dan linglung dalam derap langkahnya waktu itu; hingga terlewatkan satu persinggahan dari tujuan yang seharusnya. Pun senada dengan isi kepalanya sepertinya membuat jalinan yang salah dengan sinaps-sinapsnya, Dia benci yang membuat onar dan menciptakan delusi berkepanjangan. “Lalu kamu hadir seperti bising yang menjadi riak sekaligus pelipur. Yang adanya aku inginkan, mungkin aku butuhkan untuk tetap dalam batasnya pada waktu itu, untuk tetap dalam takarnya. Untuk tetap sewajarnya.”

Dan sebuah cerita menjadi awal yang baru, Dia tidak beranjak dari yang hadir manyapanya dalam sejenak, lantas bersemayam. “Jangan dulu beranjak, aku takut kembali.”

Dia lupa kapan terakhir kali menyeka airmata, mungkin hatinya menjadi sedikit resisten dengan luka; yang seringkali hadirnya tanpa disengaja dan Dia tidak pernah membiarkannya tinggal lama karena hanya akan menjadi racun bagi akal sehatnya.

Dan dengan mengingat penggalan-penggalan yang terlalui dalam sepintas lalu mengeja namanya, Dia mampu mengusir resah, kenangan itu yang mendamaikan; dan Dia ingin tetap berada disana. Hanya karena itu membuatnya sedikit lebih baik dan jauh lebih sadar.

“Karena dengan mengingatnya, aku kembali bisa berdamai. Karena dalam tuturnya, aku tahu yang sementara dan yang akan selalu ada.”


Waktu, jika benar kamu ada. Berhentilah dulu sejenak

Ada yang tak sengaja kutinggalkan. Beberapa waktu lalu

 

All I Have Do To Is Dream


When I want you in my arms

When I want you and all your charms

Whenever I want you

All I have to do is dream

—-

Ever since that day, the moment she looked at his back the last time
Time rendered in seemingly odd way, in an elusive possible way

She tried to shift but would always drawn back

It feels like yesterday still, the last time we listened to the music together,

 the time we strolled the night. But will we ever meet again?”

Her heart knew full well what it wanted and she wanted him

And whenever I feel blue, the thought of you heals.”

—-

I need you so, that I could die

I love you so and that is why

Whenever I want you

All I have to do is dream