My Thought Exactly

ImageKemarin kebetulan saya ‘lurking’ di salah satu thread di kaskus. Ada bahasan menarik tentang ‘Passion’ dari seorang kaskuser. Kenapa menarik, karena hal itu (red: passion) yang mendasari saya untuk mengambil keputusan hengkang dari universitas saya dahulu. Jadi seperti ini pembicaraan mereka 

Si A (Kaskuser yang mengikuti seleksi mandiri di salah satu PTN) dia merasa ragu dengan pilihannya, pilihan jurusan yang dia pilih saat ini. Si A ini kebetulan lolos di Sastra Inggris salah PTN favorit tapi ditanggalkan atau tidak diambil karena dia tidak begitu ‘berminat’ masuk jurusan tersebut (yang jadi pertanyaan, kenapa dia memilih jurusan yang jelas-jelas bukan minatnya? Banyak orang diluar sana yang mungkin ‘berminat’ pada jurusan tersebut tapi tidak lolos test). Salah seorang kaskuser menanggapi postingan Si A (sebut saja si B).

si A : gimana mau mundur ini udah terlanjur
si B : ada kata2 “udah terlanjur” berarti anda ragu. pilih kampus lain aja tapi jurusannya sesuai keinginan swasta ga kalah bagus.
si A : ya mau bagaimana lg ya kak saya cm ikutin apa yg disuruh orang tua
si B : yes , itulah kesalahan umum orangtua merasa lebih tahu keadaan anak2nya, ngga yakin bahwa anaknya sudah dewasa kalo ditanya mau bagaimana lagi. ya gw gatau solusinya…tapi gw tau ini suatu masala
si A : mungkin kesalahan saya juga kenapa setuju dengan apa yg diminta, habis saya selalu percaya dan yakin bahwa kata2 ortu adalah yang terbaik. gpp kok kak.. tinggal nunggu hasil akhirnya aja.. dimana akhirnya saya harus berlabuh akan saya jalanin sebaik2nya
si B : ya gimana yah…selama gw ngajar les emang selalu nyerah gabisa apa2 kalo ada anak yg ngaduin masalah ini ke gue. karena gue jg ga bisa apa2 bukan wilayah gue. tapi faktanya, banyak juga temen2 gw yg awalnya kuliah dengan MOTIVASI APA ADANYA yang lama2 ga kuat, ada yg akhirnya di DO karena kuliah ga beres2…ada yg cukup beruntung bisa ikut snmptn lagi, lalu pindah kuliah. ada juga yg dengan jeniusnya ttp ikutin MOTIVASI SEADANYA, lulus dengan nilai bagus seakan tidak terjadi apa2 , lalu tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan masa depannya. jadi sebenernya sih, se ngeyel2nya ortu kalo emang lama2 keliatan anaknya ga bahagia juga ntar pindah sendiri
si A : wah memang guru yah, tepat analisisnya kak tp Insya Allah saya enggak keberatan.. beruntung orang tua saya tau kemampuan saya dimana .. saya suka bahasa inggris tp bukan passion untuk kuliah.. meski sastra inggris bukan passion saya tapi kalau memang itu jalan saya, Insya Allah saya jalani
si B : tp mundur gara2 liat anak yg ga keterima negeri ..udah ga pede ngajar. FYI gue ngajarnya bahasa inggris. wah itu dengan jelas2 menyatakan “bukan passion buat kuliah
yep, no question. dalam kondisi saat ini lo ga bakal siap 100% kuliah disitu…kuliah itu bukan sekedar mencari nilai, ga kayak dari sd-sma kita terima apapun yg dikasi di meja. analoginya mungkin gini, saat di kuliah nanti, kampus sastra inggris akan menyuruh anda untuk berenang menyebrangi sungai…terlihat mudah bukan? tapi orang2 yang dari dalemnya dah sesuai dengan bakat minatnya dengan sastra inggris,sudah berwujud berang-berang, kepiting, kura-kura yang memang sudah kodratnya melakukan hal tersebut sedangkan orang2 yang masih meraba2, berusaha mencari toleransi dengan passionnya, mungkin masih berupa kuda,badak,atau gajah. memang sangat kuat, tidak kalah dengan yg lain tapi BUKAN TEMPATNYA BERADA DISINI
yg mau gue katakan adalah, MASA DEPAN tidak diperjuangkan dengan setengah2, dengan keraguan, MASA DEPAN itu ditekuni dengan MEMBUAT JALAN ANDA SENDIRI sesuai dengan siapa diri anda apa adanya
si A : wow guru English iya passion saya di Hukum / Ekonomi. aduh gimana ya.. saya mesti jawab apa.. saya jg masih nunggu SIMAK UI, Insya Allah semoga lolos disana saya milih sesuai dengan passion saya kak
si B : ya ga usah jawab apa2… gw cuma mengingatkan pentingnya ngikutin passion sesuai nurani. yaudah, mendingan kampus beda tapi jurusan sesuai sama passion deh, meskipun emang beda kampus beda kurikulum, tapi ruang lingkupnya ga jauh beda. yg jelas , kalo ragu mending mundur..
si A : iya makasih banyak ya kak motivasinya, semua kata2 kk jleb banget dan emang benar adanya
si C (menanggapi postingan si B) : ada pendapat bagus nih mungkin bisa jadi olah pikir lagi.
“Passion Definitely plays a role. When you’re passionate about something, you tend to do better work, longer. The question is whether you find passion or develop it through competence. And then how you square passion with other considerations – such as your aspirations and the market realities. So, passion is key, yes, but it’s rather more complicated than many career writers would have you think. Passion without being good at it doesn’t get you very far; passion that no one will pay money for is also limited in scope. You need to weigh various factors, passion being one of them” -Ben Casnocha

si B (menanggapi si C) : well…kebutuhan dan “pasar” itu variabel…bisa berubah tergantung waktu dan ruang. sedangkan passion sejatinya sudah tumbuh dengan sendirinya oleh nurani…

si C (menanggapi si B) : yup setuju kalo kesuksesan sesuai dengan nilai orang itu sendiri. tapi untuk mencapai nilai tersebut passion tidak bisa berdiri sendiri.
“you often need to love your work to grow and get better, but it can be very difficult to love your work when you’re not very good. I often see people lose interest in something they love because they have passion, find out they aren’t good (or at least aren’t acknowledged quickly) enough, and subsequently lose that passion. Love for work, for people, or for anything else isn’t a given. You won’t always have it. The only thing you can realistically expect in life is change. Passion is great when you have it, but when you don’t you have to remember the time when you did. Pushing through the hard parts and learning to be better is what helps you grow more competent in your work and get that passion back. Choosing something you love shouldn’t be so much about looking for a good feeling, but more about how you handle the bad ones.”
seseorang sukses karena nilai orang itu sendiri, bukan nilai dari pekerjaannya

si B : ya, saya ga pernah bilang passion bisa berdiri sendiri, tapi passion itu menurut saya , salah satu faktor terpenting karena passion itu selalu memberikan tujuan, visi dan misi

Seperti itulah pembicaraan mereka. Yang coba saya soroti disini adalah postingan si B dan si C. si B menekankan pentingnya passion dalam menentukan jurusan (idem dengan saya), si C sedikit kontra dan menjabarkan bahwa passion juga harus didukung dengan skill dan ada faktor-faktor lain selain passion (si C cenderung berpikiran realistis, dan ya ada beberapa point yang saya juga setuju). 

Jujur bagi saya passion itu amat penting dan saya setuju dengan si B. Setidaknya menjalankan sesuatu yang sesuai dengan passion atau minat kita akan memberikan kebahagiaan dan kepuasaan tersendiri, dengan catatan miliki skill yang juga mumpuni pada bidang yang di minati. Dalam hal ini saya senang hal-hal yang berbau sastra, sejarah, kebudayaan dan politik. Pentingnya minat atau passion juga menimbulkan kecintaan pada profesi yang digeluti dan juga nantinya menimbulkan dedikasi penuh pada disiplin ilmu tersebut karena munculnya dedikasi profesi menurut saya muncul karena dilandasi kecintaan pada profesi.

Oleh karena itu, saat ini saya pun sedang memperjuangkan apa yang memang saya cita-citakan dari awal. Katakanlah terlambat, tapi bagi saya untuk sebuah passion dan ilmu yang tidak ada kata terlambat. Daripada lulus kuliah tepat waktu, dapat kerja dan tidak tahu apa yang dipelajari selami ini. Saya bukan tipikal orang seperti itu. Untuk saat ini saya memperjuangkan apa yang seharusnya saya perjuangkan dari awal, mungkin jalan saya menuju kesuksesas lebih lama dan panjang dari yang lain, tapi setidaknya saya menjalani apa yang menjadi passion saya, lamapun tidak masalah. Karena saya menginginkan karir jangka panjang, karir yang saya tekuni karena kecintaan profesi bukan karena motivasi seadanya. Saya sudah berkomitmen akan membanggakan orang tua saya dengan cara saya sendiri.

ya Allah bagaimanapun juga tetap Engkaulah yang pada akhirnya memutuskan apa yang terbaik bagi hamba, hamba hanya berusaha melakukan yang terbaik The Journey To Be The Ultimate Me :D, dimulai. Bismillah.

Advertisements