Menyerap Falsafah Dewi Ruci; Sangkan Paraning Dumadi, Memayu Ayuning Buwono

Orang yang tercerahkan secara rohaniah akan senantiasa menjaga keseimbangan psikologisnya baik-baik dan terus berusaha menjaga stabilitas ketenangannya.” (Geertz, 2013)

—-

Dewi Ruci berkisah tentang perjalanan Bima saudara kedua dari lima kakak beradik Pandawa untuk menemukan air hidup yang syarat akan falsafah hidup. Berikut ringkasan kisahnya.

Dalam rangka persiapan perang agung Bratayuda lawan-lawan Pandawa, para Kurawa, berusaha untuk menyingkirkan Bima. Demi tujuan itu Durna, bekas guru Bima dan sekarang pembimbing rohani para Kurawa, memerintahkan Bima untuk mencari air hidup yang terdapat dalam gua Condromuka di sebuah hutan yang jauh. Tanpa menghiraukan bahaya-bahaya serta peringatan-peringatan kakak-adiknya yang mencurigi perintah itu, Bima berangkat. Tujuan ia membongkar pohon-pohon serta merusak seluruh hutan untuk mencari air itu. Dengan demikian ia menimbulkan kemarahan dua raksasa yang tinggal disitu. Sesudah suatu perkelahian hebat Bema berhasil membunuh kedua-duanya; dengan demikian ia sekaligus membatalkan kutukan yang sudah ditimpakan atas mereka oleh Batara Guru. Mereka kembali ke wujud mereka yang sebenarnya sebagai Dewa Indra dan Bayu dan dengan rasa terima kasih memberi tahu kepada Bima bahwa air itu tidak dapat diketemukan dalam hutan ini.

Bima kembali kepada Duran yang sekarang menjelaskan bahwa air itu terdapat di dasar samudera. Walaupun Bima sendiri mulai curiga namun ia tetap bertekad mencari air hidup itu meskipun harus dibayar dengan nyawanya. Ratapan kakak-adiknya tidak dihiraukannya. Ia berangkat lagi. Perjalanannya panjang. Sampai dipinggir samudera ia menceburkan diri dengan keberanian ke dalam gelombang-gelombang yang bergemuruh. Sampai ke tengah laut yang dalam ia diserang oleh naga raksasa Nemburnawa. Tetapi disobek-sobek Bima dengan kuku keramat Pancanaka. Bima merasa lelah dan membiarkan diri didorong kesana kemari oleh ombak-ombak samudera. Keadaan menjadi amat sepi. 

Pada saat itulah tiba-tiba muncul wujud kecil yang persis mirip dengan Bima sendiri. Wujud itu memperkenalkan diri sebagai Dewiruci, sebagai penjelmaan yang Maha Kuasa sendiri. Ia mengajak Bima untuk memasuki batinnya melalui telling kirinya. Walaupun Bima merasa ragu-ragu namun ia taat. Tanpa kesulitan ia memasukkan tubuhnya yang besar ke dalam batin Dewiruci. Semula ia menemukan diri dalam kekosongan tanpa batas dan kehilangan segala orientasi. Namun sesudah beberapa saat ia melihat kembali matahari, tanah, gunung dan laut. Ia mengerti bahwa dalam tubuh kecil Dewaruci seluruh alam luar termuat secara terbalik (jagad walikan). Ia melihat empat warna, tiga daripadanya, yaitu kuning, merah dan hitam melambangkan nafsu-nafsu yang berbahaya yang harus dijauhi sedangkan warna keempat, putih, melambangkan ketenangan hati. Ia melihat boneka gading kecil yang melambangkan Pramana, prinsip hidup ilahi. Sebuah kilat berwarna delapan membuka realitas terdalam baginya, yaitu bahwa segala-galanya adalah satu dengan dasar Illahi. Dalam kesadaran itu Bima mencapai “kesatuan hamba dan Tuhan”, kesatuan manusia dan yang Illahi: dua-duanya adalah satu tak terpisahkan. 

Dengan mencapai dimensi realists hidup yang terdalam Bima menjadi penguasa atas seluruh bumi: seluruh alam semesta tertampung olehnya, tidak ada lagi yang bisa dipelajari, “dalam kehidupannya ia telah mati” dan ia “hidup dalam kematiannya”. Dengan kekuatan yang tak terkalahkan Bima meninggalkan Dewaruci. Dalam ketentraman batin ia pulang kepada kakak-adiknya yang sangat gembira. Dengan seksama ia menyembunyikan apa yang telah terjadi padanya sambil memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditugaskan kepadanya. Sebagaimana dikatakan dalam suatu teks abad XVIII, “wujud lahir dan batinnya selaras seperti bata dalam cetakannya”. (Magnis Suseno, 1991)

Dari kisah Dewi Ruci dapat ditarik sebuah pelajaran yang berharga antara lain: pentingnya penguasaan diri (jagad cilik atau mikrokosmos) yang akan membimbing batin untuk menerima wahyu illahi yang mengarahkannya pada kejelasan tujuan hidup (sangkan-paran) yang dilandaskan pada tujuan non-egoistik. Keselarasan dan kesempurnaan diri itu yang dikatakan dalam teks abad XVII, “wujud lahir dan batinnya selaras seperti bata dalam cetakannya.” Sikap batin itu yang telah lama menjadi koordinat etika jawa yaitu, Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe, Memayu Hayuning Bawono; bebas dari kepentingan sendiri, melakukan kewajiban-kewajiban yang bertujuan untuk memperindah dunia. 

Kawruh Sangkan Paran untuk Meniti Jiwa Manunggal

Telah terjadi transformasi ideologi yang menciderai pandangan hidup jawa yang lekat dengan kebijaksaan hal ini terutama disebabkan karena gerusan roda jaman yang menghujamkan nilai-nilai modernisme: budaya asing, sayangnya hal ini tidak didampingi proses akulturasi yang sehat sehingga justru mengikis nilai kearifan lokal; termasuk salah satunya pandangan jawa. Dari kisah dewi ruci pandangan jawa syarat akan kebijaksanaan yang dihubungkan dengan penemuan kesejatian diri. Jiwa yang telah sempurna dan telah menemukan air hidupnya layaknya Bima akan menjadi jiwa yang manunggal dengan illahi (pamore kawruh Gusti); ditandai dengan ketenangan batin dan keselarasan laku dengan alam numinous atau makrokosmos konsep mistik ini mengarah pada orientasi religi yang dikena dengan priyayi. Jiwa yang telah menemukan sejatinyalah yang mampu mencapai spa yang oleh Jawa dikenal sebagai; kawruh sangkan paraning dumadi: pengetahuan (kawruh) tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala apa yang diciptakan (dumadi) (Magnus Suseno, 1991). Seyogyanya nilai ini tersemat dan terhayati pada setiap orang jawa. 

Kebijaksanaan mistik Jawa berinti pada pemahaman akan ‘sangkan-paran’ tercapai ketika seseorang meluruhkan dirinya seperti Bima dengan ketetapan niatnya untuk menemukan air suci dan menjadikannya satu-satunya tujuan; sangkan paraning dumadi (mengetahui asal dan tujuan penciptaannya). Ketika telah tercapai tahap itu seseorang akan mati sajroning urip (mati dalam hidup) dan urip sajroning mati (hidup dalam mati) karena dia telah menemukan kesejatiannya yang hakiki dan manyatu dengan illahi; tindak-tanduknya hanyalah bentuk kewajibannya untuk menjaga keindahan semesta. Dengannya, kawruh sangkan paran mengajarkan keberlarasan alam lahir (alam luar, kasar, transformasi itu daya bertindak sendiri: makrokosmos) dan alam batin (alam dalam, alus, merupakan kenyataan yg sebenarnya, tempat kekuatan asal yang menentukan hidup manusia: mikrokosmos) dimana alam lahir seyogyanya memuat apa yang ada di alam batin. 

Salah satu aliran kebatinan di Jawa yang menerapkan paham ini adalah Paguyuban Ngesti Tunggal yang memaknai manusia sebagai Tripurusa Illahi; dasar jiwa individual adalah satu dengan roh suci, tahap emanasi Yang Ilahi yang ketiga (Soebardi, 1975). Untuk mencapai kawruh sangkan paran dikenal prinsip Pramana; yang mendasari kesadaran subjektif yang merupakan manifestasi kehidupan ilahi yang dalam aliran Pangestu ditempuh melalui tiga tahap; distansi (penarikan diri dari dunia luar untuk mencapai kejernihan pikiran, meliputi tiga tahap; nrima, sabar, rila), konsentrasi (pencarian kesejatian diri dalam distansi), dan representasi (manifestasi dari dua tahap sebelumnya dalam bentuk kontribusi nyata yang positif bagi masyarakat.) (Mertowardoyo, 2005). Inti dari ajaran Pangestu selaras dengan kawruh sangkan paran mengarah pada poros paran yang sama: Memayu Ayuning Bawana.

Dengan semakin cepatnya laju jaman, sepatutnya masyarakat jawa tidak tergilas oleh rodanya; terutama dengan maraknya budaya pop, sebaliknya tetap menyikalkan akar dirinya pada pandangan Jawa yang syarat akan kebijaksanaan hidup untuk mencapai kemanunggalan jiwa. Jiwa-jiwa yang manunggal yang telah melampaui tiga tahapan dalam Pangestu yang nantinya berperan dalam pembangunan. Pembangunan manusia adalah aset dan motor pembangunan fisik. Berangkat dari penghayatan akan kesadaran Sangkan Paraning Dumadi untuk mewujudkan tataran masyarakat dan pembangunan yang Memayu Ayuning Buwana.

The Importance of Having Clarity of Purposes

My eyes accidentally bumped into this quote this morning, “Talent is cheap, dedication what takes you your life: and is expensive.”. As I once wrote here, what’s most important for those aspiring writers according to Haruki, talent is the most essential it is, because it is a fuel, what makes the engine works, but the last point endurance, what takes one a dedication to the chosen field. I once attended ‘Supermentor‘ an event rendered by Dino Patti Jalal back in 2014, only I forgot which speaker said the sentence, there three of them (if my memory has it well reserved): Mr.Dino Patti Djalal, Mr. Johannes Suryo, and Mr. Ignatius Jonan. One of them said, what is lacking in Indonesia, beside its enormous amount of genius minds is the lack of dedication in the chosen fields: dedicated soul, let’s say, because it is what most of fresh graduates expected right after they graduated from university: to get a decent paid job, even when it doesn’t coincide with their study in the university, it is as simple a reason –to have it mostly if not, partially, or majority voices–: pragmatism. I don’t want to talk further about it, even when I want to, what I want to hightlight here is, the important of having clarity of purposes, thus knowing thyself becomes an important issue, to know your purposes, you need to know yourself, what triggers you to get up each day, what sparks the soul and gets you going no matter how heavy a storm out there that tries to stumble your walking the taken road (in a short a term it spells: passion), if you have it or them purposes clearly set in mind, you know why you are living and breathing, this is what Kimanzi Constable said, not just merely ‘existing‘ as in the existence of one physical form, but the purest essence of living as a purposeful being. This term in Javanesse, called ‘sangkan-paran‘, you know what sets you on fire and hard-headed to keep on carring on,I really like those coined term, one story that represents the phrase in Javanese is the story of Dewi Ruci, it is Bima’s persistency and firmness in his purposes to get ‘holy water’ in order to save the rest of his siblings from Kurawa, what leads him to enlightment at last. What is being said by Irving, by Haruki –in term of endurence, the speaker, and what Bima did are all basically rooted in one word: dedication. Let’s have it a word a truism, dedication what creates innovation, new inventions by wholeheartedly dedicated scientists, existing masterpieces by the greatest artists of the walking or say certain period of time, what creates the great thinkers of all time or philosophers, but it is only a mere word without further walking into the word. More dedication souls to come, hopefully in Indonesia, in the future.