Mata Sendu Berkalung Ragu

dawn

Mata sendu berkalung ragu,

Menginjak nyaris subuh

Dianya masih bergelut dengan sendirinya

Bersuaranya yang hanya didengar dia

Mata sendu berkalung ragu,

Dalam tanda besar pertanyaan

Seharusnyakah menjadi optimis sepenting menjadi egois?

Dalam diam merenungnya dia tak terjawab

Tetap tanda besar itu menjadi tanya

Semakin larut bergelut dengan sendirinya

Semakin titik yang dilihat oleh dia tanpa ujung

Terkaan tentang nanti, obrolan nanti, dan candaan nanti

Yang dia takut menjadi fakta berkebalikan

Percuma mengharap seluruh mata dunia

Dia tetap menjadi dirinya yang naif

Kaku dan beku

Seperti es yang gagal menemukan cara untuk mencair

Advertisements